
Minimnya minat generasi muda untuk mengelola sawah membuat petani di Desa Purworejo, Kecamatan Balong, Ponorogo, kesulitan mencari tenaga kerja tanam padi. Kondisi ini dirasakan petani sejak sekitar enam tahun terakhir dan semakin parah pada tahun ini.
Kepala Desa Purworejo, Didik Subagyo, mengatakan banyak anak muda di wilayahnya memilih bekerja di luar sektor pertanian setelah menempuh pendidikan tinggi. Selain itu, tidak sedikit yang merantau ke luar kota demi mencari penghidupan yang lebih layak.
“Anak-anak muda sekarang banyak yang tidak tertarik bertani. Setelah lulus sekolah atau kuliah, mereka memilih kerja di sektor lain atau merantau ke luar kota,” ujar Didik.
Akibat kondisi tersebut, lahan pertanian di Desa Purworejo kini sebagian besar dikelola oleh petani berusia lanjut. Bahkan, tenaga kerja yang membantu proses tanam padi rata-rata berusia di atas 50 tahun.
“Tenaga kerja sawah di desa kami tidak lebih dari 30 orang, itu pun usianya sudah sepuh,” jelasnya.
Didik menambahkan, meski proses panen sudah terbantu dengan mesin combine, namun untuk tahap tanam padi masih sepenuhnya mengandalkan tenaga manusia. Beruntung, masih ada pekerja dari luar daerah yang bersedia membantu petani setempat.
Untuk upah, para pekerja tanam padi tersebut menerima bayaran rata-rata Rp50 ribu per kotak, belum termasuk konsumsi.
Didik berharap fenomena ini mendapat perhatian serius dari pemerintah. Ia khawatir jika kondisi tersebut dibiarkan, lahan pertanian akan terbengkalai dan berpotensi mengancam ketahanan pangan.
“Kalau tidak ada solusi, bisa jadi sawah masih ada, tapi tidak ada yang menggarap. Ujung-ujungnya lahan dijual, dan ini tentu berbahaya bagi ketahanan pangan,” pungkasnya.



