
Kabupaten Ponorogo menjadi salah satu daerah penghasil gabah utama di Jawa Timur. Tingginya produksi padi membuat Bumi Reog masuk dalam sepuluh besar daerah dengan produksi padi tertinggi di provinsi ini.
Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, mengatakan produksi padi di Ponorogo terbilang sangat baik. Dalam satu tahun, Ponorogo mampu memproduksi antara 468 ribu hingga 546 ribu ton gabah.
“Produksi padi di Ponorogo cukup bagus. Dalam setahun bisa mencapai 468 ribu sampai 546 ribu ton gabah,” kata Lisdyarita.
Menurutnya, capaian tersebut didukung luas tanam sekitar 78 ribu hektare dengan produktivitas panen rata-rata enam hingga tujuh ton per hektare.
“Kami mengandalkan luas tanam sekitar 78 ribu hektare, dengan hasil panen per hektare bisa enam sampai tujuh ton,” jelasnya.
Menariknya, tidak semua wilayah di Ponorogo hanya melakukan tanam dua kali dalam setahun. Beberapa kecamatan bahkan mampu menanam hingga empat kali dalam satu tahun.
“Bahkan ada wilayah yang bisa tanam sampai empat kali dalam setahun,” imbuhnya.
Tingginya produktivitas tersebut membuat Ponorogo memiliki pola panen yang terbilang unik dibandingkan daerah lain. Panen padi dapat berlangsung setiap bulan karena waktu panen berbeda-beda di setiap kecamatan.
“Ponorogo ini unik, panen bisa terjadi setiap bulan karena tidak serempak. Yang biasanya panen bersamaan itu kebanyakan di wilayah selatan,” ungkap Lisdyarita.
Selain peningkatan produksi, Lisdyarita berharap petani di Ponorogo terus berkembang dengan memanfaatkan teknologi pertanian modern. Pembaruan alat dan mesin pertanian (alsintan) dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menarik minat generasi muda.
“Pembaharuan alsintan diharapkan bisa memacu generasi muda untuk mau bertani,” ujarnya.
Ia pun berharap ke depan muncul regenerasi petani dari kalangan milenial dan generasi Z.
“Kami berharap ada petani milenial dan Gen Z yang mau terjun ke sektor pertanian,” pungkasnya.



