
Persawahan di wilayah barat Desa Winong, Kecamatan Jetis, kembali menjadi langganan banjir pada musim hujan tahun ini. Genangan air merendam area persawahan selama beberapa hari dan menyebabkan tanaman padi rusak.
Kepala Desa Winong, Hanif Syaifulloh, menjelaskan banjir dipicu tingginya intensitas hujan yang tidak diimbangi daya tampung sungai di sekitarnya.
“Sungai Genting sudah mengalami pendangkalan, alirannya menyempit. Jadi ketika hujan deras, air cepat meluap ke persawahan,” katanya.
Menurut Hanif, kondisi tersebut sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir dan membutuhkan langkah penanganan serius.
“Normalisasi perlu dilakukan supaya banjir tidak terus berulang. Daerah sekitar aliran Sungai Genting memang sering terdampak,” ujarnya.
Di Winong, sedikitnya 11 hektare lahan persawahan tergenang air selama sekitar empat hari. Padi yang baru berumur satu bulan membusuk dan dipastikan gagal panen. Nilai kerugian diperkirakan mencapai lebih dari Rp1 miliar.
Meski lahan masih bisa ditanami kembali, para petani mengaku khawatir terjadi banjir susulan yang akan menambah kerugian.
Dari total lahan terdampak, sekitar 9 hektare dapat diikutkan dalam program asuransi pertanian. Hanif menyebut, pemerintah desa telah melakukan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo.
“Usulan normalisasi Sungai Genting sudah kami sampaikan lewat Musrenbang, dan tahun ini kami harap bisa menjadi salah satu prioritas penanganan,” tegasnya.



