
Nasib pilu dialami Arkana Wafi, bocah berusia 4 tahun asal Jalan Cinde Wilis, Kertosari, Babadan. Di usianya yang masih sangat belia, Arkana harus berjuang melawan tumor otak dan telah menjalani operasi sebanyak empat kali di RS dr. Soetomo Surabaya.
Semua bermula saat awal Ramadan 2025. Tangan dan kaki kiri Arkana tiba-tiba gemetar. Kedua orang tuanya, Suryanto dan Fitria, tak menyangka gejala itu menjadi awal perjalanan panjang yang melelahkan.
“Awalnya cuma gemetar biasa. Kami bawa ke mantri dekat rumah, tapi tidak kunjung sembuh,” cerita Suryanto, ayah Arkana.
“Lalu kami bawa ke dokter spesialis anak, kemudian dirujuk ke beberapa rumah sakit.”
Perjalanan pengobatan Arkana berpindah-pindah. Dari RS swasta, kemudian ke RSUD dr. Harjono, dilanjutkan ke RSUP dr. Soedono Madiun, hingga akhirnya ke RS dr. Soetomo Surabaya. Di sanalah tim dokter memastikan: Arkana menderita tumor otak dan harus menjalani operasi.
“Dokter bilang ada tumor di otaknya. Rasanya dunia runtuh. Tapi kami harus kuat demi anak,” kata Suryanto lirih.
Sejak operasi pertama hingga keempat, kondisi Arkana berubah drastis. Bocah yang sebelumnya aktif bermain kini hanya bisa terbaring lemah di rumah.
“Dulu dia lari-lari, sekarang cuma bisa berbaring. Setiap hari kami hanya berdoa supaya Allah memberi kesembuhan,” ucap Suryanto.
Di tengah ujian berat ini, keluarga Suryanto tidak sendiri. Warga sekitar, lembaga sosial, serta berbagai pihak ikut membantu meringankan beban.
“Alhamdulillah ada warga, lembaga sosial, termasuk Lazismu dan RGSFM Peduli yang membantu,” kata Suryanto.
“Kami sangat berterima kasih. Tanpa mereka, mungkin kami sudah tidak tahu harus bagaimana.”
Suryanto yang bekerja sebagai karyawan di sebuah toko daging mengakui biaya pengobatan dan perawatan jauh di atas kemampuan keluarganya. Namun harapan tetap ia peluk erat.
“Harapan saya cuma satu — Arkana sembuh. Bisa sekolah, bisa bermain lagi seperti anak-anak lain,” tuturnya.



