
Penghijauan yang dilakukan Karang Taruna Pinggir Wono Mrican selama setahun terakhir terkendala dengan masih banyaknya bibit tanaman yang mati. Dari ratusan bibit yang ditanam, hanya 70 persen yang hidup, sedangkan 30 persen lainnya mati.
Karena itulah, Jumat, 14 November 2025, dilakukan monitoring dan penyulaman di lokasi penghijauan, yakni di pinggiran hutan Alas Kayu Putih Mrican Timur. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 30 persen tanaman yang mati disebabkan kekurangan air, dan sebagian lainnya dicabut oleh tangan-tangan jahil.
Sebagai gantinya, pihaknya kembali melakukan penanaman dengan jenis pohon yang sama. Kebanyakan tanaman yang mati adalah jenis beringin, padahal sangat dibutuhkan karena akarnya mampu menyimpan air dan menjadi penahan erosi.
Selain beringin, jenis pohon yang ditanam antara lain alpukat, jambu air, sukun, dan petai. Pihaknya, lanjut Ismani, rutin melakukan pemeliharaan dan perawatan berupa penyiraman saat musim kemarau serta pemupukan pasca penghijauan yang dilakukan pada November tahun lalu, sehingga umur tanaman rata-rata kini sudah mencapai satu tahun.



