
Barcode sifatnya privasi, masyarakat diminta untuk menjaganya dengan baik. (Foto : Merdeka)
Adanya dugaan barcode Pertamina dipakai orang lain sehingga kuota menyusut padahal belum dipakai mendapat tanggapan dari Agus Mustofa Latif, pemilik sejumlah SPBU di Ponorogo.
Pengusaha sekaligus politisi itu mengaku kejadian tersebut juga pernah dialaminya dan di Kota Reog sendiri sudah ada beberapa konsumen yang melapor mengalami kejadian serupa.
Hanya saja, untuk siapa oknum nakal yang melakukan pembajakan barcode Pertamina dirinya juga bingung bagaimana bisa melakukannya.
Disinggung apakah petugas SPBU ada yang nakal bisa melakukan, menurutnya tidak mungkin mengingat barcode atau kode QR MyPertamina harus sesuai dengan jenis dan nomor kendaraan.
“Jika tidak sesuai, kan tidak akan bisa melakukan pengisian,” tegas Agus.
Dijelaskan, kejadian tersebut pernah dialaminya saat menggunakan kendaraan menuju Ponorogo – Surabaya. Saat melakukan pengisian di sebuah SPBU ditolak karena limitnya habis, padahal dirinya belum melakukan pengisian dan uniknya sudah digunakan di SPBU wilayah Pacitan.
“Buat konsumen yang merasa menjadi korban bisa langsung membuat surat sanggahan ke Pertamina pusat,” ujar Agus.
Atau pelanggan yang merasa tidak mengisi BBM namun kuota tertulis sudah habis dapat melakukan refresh kode QR di website atau aplikasi MyPertamina untuk mendapatkan kode QR baru, serta memastikan bahwa kode QR yang dimiliki tidak diketahui orang lain. (rl/ab)



