
Panen pertama pisang cavendis di Desa Bringinan, Kecamatan Jambon, Ponorogo, belum memberikan hasil yang memuaskan. Dari sisi kualitas, pisang yang dikenal dengan rasa manis dan tekstur lembut ini masih jauh dari harapan, karena banyak buah yang burik.
Akibat kondisi tersebut, pisang hasil panen hanya bisa dijual di lingkup desa, terutama untuk kebutuhan hajatan manten. Kepala Desa Bringinan, Barno, menyampaikan bahwa pisang cavendis masih sulit dipasarkan ke toko buah maupun supermarket karena penampilannya tidak mulus.
“Untungnya panen pertama ini jumlah warganya yang menanam sedikit, karena pohonnya hanya tumbuh di pekarangan, bukan di kebun. Mungkin karena jumlahnya tak banyak, warga juga enggan melakukan perawatan,” ujar Barno.
Padahal, budidaya pisang cavendis membutuhkan perlakuan khusus yang berbeda dengan pisang pada umumnya. Misalnya, setelah jantung pisang dipotong, perlu dilakukan penyemprotan insektisida agar tidak diserang larva atau lalat buah. Begitu juga pascapanen, proses pematangan cavendis lebih rumit. Jika pisang biasa cukup dicarbit dan ditutup plastik hingga menguning, cavendis harus dicuci dengan sabun cuci piring, ditiriskan, dimasukkan ke kardus, lalu disimpan dalam pendingin dengan suhu 16 derajat Celsius.
Dengan kondisi ini, panen perdana dijadikan bahan evaluasi bagi warga yang saat ini masih menanam namun belum memanen. Harapannya, kualitas pisang cavendis berikutnya bisa lebih baik dan layak dipasarkan ke toko buah maupun supermarket.



