
Meski ramai pemberitaan soal beras premium yang diduga dioplos, penjualan beras di Surya Mart Ponorogo tetap stabil. Konsumen masih memilih beras kemasan premium 5 kg seperti biasa.
Direktur Keuangan PT Daya Surya Sejahtera (DSS), Aguk Suprawanto, menyatakan bahwa isu tersebut belum berdampak pada tingkat penjualan. “Penjualan beras di retail kami masih tinggi. Masyarakat tetap membeli beras premium, mungkin karena belum mendengar informasi itu atau memang tidak terlalu memedulikannya,” ungkapnya.
Aguk menjelaskan, ada tiga merek yang dijual Surya Mart dan masuk dalam daftar penanganan Satgas Pangan Polri, yakni Sania, Siip, dan Sovia. Namun, supplier dari ketiga merek tersebut sudah memberikan jaminan bahwa produk yang mereka kirim benar-benar beras premium, bukan oplosan.
“Memang sempat kosong saat pemberitaan beras oplosan mencuat, tapi sekarang stok sudah kembali tersedia. Distributor mengirimkan lagi disertai surat jaminan bahwa isi beras sesuai kualitas premium. Karena itu, kami berani menjualnya kembali ke konsumen,” jelas Aguk.
Dari sisi harga, beras premium kemasan 5 kg tersebut kini dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), yakni Rp73.500, turun dari harga sebelumnya yang sempat menyentuh Rp78.000.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut maraknya beras oplosan di pasar tradisional maupun ritel modern menjadi perhatian serius. Investigasi bersama Kementerian Pertanian dan Satgas Pangan Polri menemukan sekitar 212 merek yang tidak memenuhi standar mutu. Beberapa merek tercatat kemasan tampak premium, padahal isinya sudah dicampur. Ada yang beratnya hanya 4,5 kg meski tertulis 5 kg. Banyak juga yang mengklaim premium padahal kualitas biasa,” ujar Mentan.



