
Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dipertahankan) Kabupaten Ponorogo telah mengusulkan tambahan jatah pupuk bersubsidi untuk para petani, Pasalnya sisa alokasi pupuk yang ada saat ini kemungkinan besar tidak akan cukup hingga akhir tahun 2023.
Seperti disampaikan Masun kepala Dipertahankan, dimana sisa kuota pupuk bersubsidi hanya tinggal 13.530 ton dari alokasi awal yakni 42.000 ton dengan jenis urea dan NPK, yang digunakan untuk 9 jenis tanaman, pihaknya Sudah mengajukan ke kementerian sekitar 11 ribu ton namun belum ada kepastian berapa yang disetujui, menurutnya Kalau mengandalkan sisa yang ada jelas kurang nantinya.
“Pupuk kita untuk subsidi serapan Januari sampek Juli 2023, memang dibanding tahun 2022 ada peningkatan, peningkatan ini terjadi karena adanya peningkatan luas tanam padi tadi” kata Masun pada Jum’at (25/08)
Jika dibandingkan dengan tahun pada periode yang sama yakni Januari hingga Juli konsumsi pupuk bersubsidi mengalami kenaikan sekitar 2.000 ton pada tahun ini karena dipengaruhi oleh adanya peningkatan luas tanam. Dimana konsumsi jenis Urea sudah mencapai 18.500 ton dan NPK sekitar 10.000 ton, sehingga total konsumsi pupuk tahun ini mencapai 28.500 ton.
Masun mengakui Memang salah satu faktornya karena peningkatan luas tanam, tahun lalu periode sama itu 26.153 ton kalau tahun ini 28.470 ton, Masun mengungkapkan permintaan alokasi pupuk bersubsidi tersebut berdasarkan kebutuhan yang ada yakni elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK).
“Subsidi kita tahun ini, urea itu di angka 28.000 ton, kemudian NPK di angka 14.00 ton, hanya dua itu, organik sudah tidak ada, saat ini hanya untuk dua jenis pupuk” imbuhnya.
Masun bilang pengajuan penambahan pupuk bersubsidi tersebut sudah dilakukan pada Juli lalu, namun hingga pertengahan Agustus belum ada, ia berharap pengajuan tambahan pupuk bersubsidi tersebut bisa disetujui Sehingga petani tidak perlu merasa khawatir terhadap ketersediaan pupuk bersubsidi.