Tangis haru, senyum bahagia, dan tepuk tangan mewarnai prosesi Wisuda ke-60 Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO) yang digelar di Gedung Expotorium, Sabtu (4/7/2026). Sebanyak 271 lulusan program Pascasarjana, Sarjana, dan Diploma resmi dikukuhkan setelah menuntaskan pendidikan mereka di kampus berjuluk Kampus Pencerahan tersebut.
Sejak pagi, kawasan kampus telah dipadati para wisudawan bersama keluarga. Para wisudawati tampil anggun mengenakan kebaya beraneka warna, sementara para wisudawan mengenakan jas dan toga dengan raut wajah penuh kebanggaan. Sebelum prosesi dimulai, mereka mengabadikan momen bersama keluarga melalui swafoto dan foto bersama sebagai kenangan atas perjalanan panjang yang akhirnya berbuah gelar akademik.
Suasana kemudian berubah khidmat saat iring-iringan senat akademik memasuki ruang sidang. Lagu Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah Sang Surya menggema, diikuti seluruh tamu undangan yang berdiri dengan penuh khidmat.

Puncak prosesi berlangsung ketika satu per satu wisudawan dipanggil ke atas panggung untuk menerima pengukuhan. Tangis bahagia pun tak terbendung dari deretan orang tua yang menyaksikan putra-putri mereka resmi menyandang gelar akademik dan menjadi bagian dari keluarga besar alumni UMPO.
Dalam sambutannya, Rektor UMPO menyampaikan rasa bangga atas perubahan yang dialami para mahasiswa sejak pertama kali menempuh pendidikan hingga akhirnya lulus.
“Pertama, tahniah untuk anak-anakku. Selamat para wisudawan, wisudawati 271 hari ini. Kemarin anak-anak kita ini, putra-putri ini, masih manja ke penjenengan. Hari ini kelihatan dewasa,” ujarnya.

Di hadapan para orang tua, Rektor kemudian menyerahkan kembali para lulusan kepada keluarga sebagai simbol berakhirnya masa pendidikan di kampus.
“Saatnya kami kembalikan kepada penjenengan, putra-putri ananda ini, ke pangkuan penjenengan. Untuk yang punya suami, anak-anakku saya kembalikan kepada pangkuan istri, dan yang sudah beristri saya kembalikan ke pelukan suami.”
Tak hanya memberikan ucapan selamat, Rektor juga membekali para lulusan dengan pesan kehidupan melalui filosofi burung elang. Menurutnya, seekor elang tidak membalas gangguan burung gagak, melainkan memilih terbang semakin tinggi hingga gangguan itu hilang dengan sendirinya.
“Sukses selalu anak-anakku, jangan berhenti berbenah, jangan berhenti berkarir, untuk yang studi lanjut maupun yang berkarir untuk dunia kerja. Teruslah berterbang, terbang teruslah anak-anakku. Seperti elang, elang itu yang berani dipatuk tubuhnya cuma satu burung, yaitu burung gagak. Tetapi elang tidak balik menyerang. Semua gangguan itu dijawab dengan aksi, yaitu terbang lebih tinggi.”
Rektor juga mengingatkan agar para alumni selalu menjaga integritas dan nilai diri di mana pun mereka berada.
“Jadilah orang berharga, bermakna layaknya emas. Emas itu tidak akan berubah nilainya walaupun berada di tengah lumpur.”
Pesan penutup yang disampaikan Rektor pun menjadi bekal bagi seluruh wisudawan sebelum meninggalkan almamater.
“Pulanglah sebagai orang hebat, dan kembalilah ke Kampus UMPO sebagai orang yang bermanfaat.”
Wisuda kali ini semakin istimewa dengan kehadiran Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq. Dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk Inovasi Artificial Intelligence Sebagai Pilar Ketahanan Pangan Generasi, ia mengajak para lulusan untuk mengambil peran dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui inovasi dan teknologi.

Menurut Hanif, persoalan pangan tidak bisa dipandang sebagai isu sektoral semata karena berkaitan langsung dengan ketahanan sebuah negara.
“Ketahanan pangan adalah bagian tak terpisahkan dari ketahanan nasional,” tegasnya.
Ia menjelaskan, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan di sektor pertanian, mulai dari alih fungsi lahan, distribusi hasil pertanian, regenerasi petani hingga perubahan demografi.
“Tantangan di bidang pertanian saat ini antara lain terkait alih fungsi lahan, sistem distribusi, regenerasi petani, dinamika demografi,” katanya.
Karena itu, ia berharap generasi muda, khususnya para lulusan perguruan tinggi, mampu menjadikan sektor pangan sebagai ruang berkarya sekaligus mengabdi kepada masyarakat.
“Ketahanan pangan agar dijadikan ruang pengabdian, ruang inovasi, melatih keterampilan,” pesannya.
Hanif juga menegaskan bahwa kontribusi terhadap pembangunan ketahanan pangan tidak hanya berasal dari lulusan bidang pertanian.
“Apapun bidang ilmu, semuanya dapat berkontribusi dalam membangun sistem ekonomi bidang pangan.”

Pada kesempatan tersebut, UMPO juga memberikan penghargaan kepada lulusan terbaik. Untuk jenjang Magister, predikat peraih IPK tertinggi diraih Diana Wahyu Panglipur dari Program Studi Magister Pedagogi dengan IPK 3,97. Sementara untuk jenjang Sarjana, penghargaan diberikan kepada Riska Nur Aisya dari Program Studi Psikologi yang juga meraih IPK 3,97.
Tak hanya prestasi akademik, UMPO turut mengapresiasi mahasiswa yang berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an melalui penghargaan Wisudawan Tahfidz. Pada wisuda kali ini, penghargaan diberikan kepada Salsabila Aufa Khairunnisa yang menyelesaikan hafalan tujuh juz serta Raa’id Naajii Fathiin dengan hafalan lima juz.

Program Tahfidz sendiri telah menjadi salah satu program unggulan UMPO sejak 2018 melalui Beasiswa Tahfidz Al-Qur’an. Hingga kini, tercatat 66 mahasiswa aktif mengikuti program tersebut sebagai bagian dari upaya kampus melahirkan lulusan yang unggul secara akademik sekaligus kuat dalam nilai-nilai keislaman.
Wisuda ke-60 ini bukan sekadar penanda berakhirnya masa studi, tetapi menjadi awal perjalanan baru bagi 271 lulusan UMPO untuk mengabdikan ilmu, menjaga nama baik almamater, serta memberikan manfaat bagi masyarakat sesuai pesan yang dititipkan kampus kepada setiap alumninya.



