
Seorang konsumen membeli gas non subsidi ditengah kenaikan harga pada LPG jenis tersebut. (Foto/Yudi)
Harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) atau elpiji non-subsidi Bright Gas akhir-akhir ini mengalami kenaikan, tak terkecuali di Ponorogo. Kenaikan terjadi pada gas elpiji ukuran 5,5 kg dan 12 kg.
Zaenal Abidin, pemilik salah satu pangkalan elpiji di Jalan MT. Haryono Ponorogo, mengatakan kenaikan harga terjadi dua kali pada April ini, diduga imbas perang di Timur Tengah. Elpiji non-subsidi ukuran 5,5 kg dari sebelumnya Rp95.000 per tabung kini menjadi Rp107.000 ribu di tingkat agen.
Sementara itu, elpiji ukuran 12 kg dari sebelumnya Rp192.000 menjadi Rp228.000 ribu per tabung. Kenaikan terjadi dua kali yakni pada 1 dan 18 April 2026. Sebelum harga naik, dirinya mampu menjual sekitar 50 tabung Bright Gas dalam sebulan.
Diakuinya, sejak harga elpiji non-subsidi naik, banyak pelanggan yang tidak jadi membeli karena harganya mahal. Meski begitu, sementara ini belum berpengaruh terhadap penjualan elpiji subsidi 3 kg di pangkalannya. Zaenal berharap, sekalipun harganya naik, ketersediaan gas elpiji non-subsidi tetap tercukupi.
Sementara itu, Sri Wahyuni, pangkalan lainnya, mengungkapkan dalam sebulan dirinya menjual lebih dari 40 tabung elpiji non-subsidi. Pihaknya mengakui adanya pelanggan yang menanyakan terkait lonjakan harga tersebut. Seperti diketahui, harga elpiji non-subsidi di tingkat pangkalan bervariasi karena adanya tambahan biaya distribusi. #Jelajah



