
Operasi Keselamatan Semeru 2026 digelar dengan pendekatan berbeda. Operasi yang berlangsung mulai 2 hingga 15 Februari tersebut menitikberatkan langkah preemtif, preventif, dan represif secara berimbang.
Sasaran utamanya adalah menekan angka pelanggaran serta mencegah fatalitas kecelakaan, khususnya di kalangan remaja usia 16 hingga 19 tahun.
Kasat Lantas Polres Ponorogo, AKP Dewo Wishnu Setya Kusuma melalui Kanit Kamsel Ipda Partono menjelaskan, dari 58 kejadian pelanggaran yang terdata selama operasi berlangsung, mayoritas dilakukan oleh pelajar.
“Dari 58 pelanggaran yang tercatat, sebagian besar dilakukan oleh pelajar usia remaja. Ini menjadi perhatian serius kami,” ujar Ipda Partono saat dikonfirmasi.
Ia menegaskan, langkah penindakan tetap dilakukan, namun bukan menjadi satu-satunya strategi dalam operasi kali ini.
“Tujuan utama Operasi Keselamatan Semeru 2026 bukan sekadar mengejar angka tilang. Yang lebih penting adalah menekan risiko kecelakaan yang kerap berujung fatal pada usia produktif,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan preemtif lebih dikedepankan melalui sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, khususnya pelajar. Polisi memberikan pemahaman tentang pentingnya tertib berlalu lintas, penggunaan helm standar, serta kelengkapan surat kendaraan.
Sementara itu, langkah preventif diwujudkan melalui razia simpatik dan pemeriksaan kelengkapan kendaraan. Petugas di lapangan tidak serta-merta melakukan penindakan.
“Untuk pelanggaran ringan, kami lebih mengedepankan teguran dan pembinaan. Namun jika pelanggaran berpotensi membahayakan keselamatan, tentu akan kami tindak dengan tilang sesuai aturan yang berlaku,” pungkasnya.



