
Kisah cinta beda negara antara Lulis Widyaningrum (24), gadis Dukuh Tanjung, Desa Ngrayun, Ponorogo, dengan Carmello Corallo (24), warga Italia, akan segera berlabuh di pelaminan. Keduanya dijadwalkan melangsungkan akad nikah pada Kamis, 12 Februari 2026 mendatang.
Kepala KUA Ngrayun, Misbahul Munir, membenarkan rencana pernikahan pasangan beda negara tersebut. Ia menyampaikan bahwa seluruh proses administrasi tengah dipersiapkan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Akad nikah akan dilaksanakan Kamis, 12 Februari 2026. Semua persyaratan administrasi sedang kami proses sesuai aturan,” ujar Misbahul Munir.
Sebelumnya, pada Senin lalu, Carmello Corallo telah menjalani prosesi ikrar mualaf yang dipandu Ketua MUI Kecamatan Ngrayun. Prosesi tersebut berlangsung lancar dan khidmat.
“Senin kemarin yang bersangkutan sudah melaksanakan ikrar masuk Islam dan berjalan dengan lancar,” jelasnya.
Misbahul Munir menambahkan, dalam perkawinan campuran terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi. Perbedaan kewarganegaraan diperbolehkan, namun tidak dengan perbedaan agama.
“Beda negara diperbolehkan, tetapi tidak boleh beda agama. Itu yang menjadi syarat utama dalam pernikahan di KUA,” tegasnya.
Sementara itu, Carmello Corallo menyatakan keputusannya memeluk Islam bukan semata-mata karena akan menikahi Lulis. Ia mengaku telah lama memiliki ketertarikan untuk mendalami ajaran Islam.
“Saya masuk Islam bukan karena menikah. Sejak lama saya memang ingin belajar dan mendalami agama Islam,” ungkap Carmello dengan penuh kesadaran.
Kisah cinta keduanya bermula saat sama-sama bekerja di sebuah agensi di Bali. Hubungan yang terjalin sekitar lima tahun itu pun sempat dijalani dengan jarak jauh atau long distance relationship (LDR).
Meski berbeda kewarganegaraan, proses akad nikah nantinya dipastikan tidak memerlukan penerjemah khusus. Pasalnya, Carmello sudah cukup memahami bahasa Indonesia.
“Kami tidak memerlukan penerjemah, karena calon mempelai pria sudah bisa berbahasa Indonesia. Memang belum terlalu lancar, tetapi sudah paham jika diajak berkomunikasi,” pungkas Misbahul Munir.
Kisah cinta lintas negara ini pun menjadi perhatian warga sekitar, sekaligus membuktikan bahwa perbedaan budaya dan jarak bukanlah penghalang untuk bersatu dalam ikatan suci pernikahan.



