
Relawan Emergency Medical Team (EMT) RSU Aisyiyah Ponorogo harus menghadapi tantangan berat selama menjalankan misi kemanusiaan di wilayah terdampak bencana di Aceh. Selain bertugas di daerah terpencil, medan ekstrem dan perjalanan panjang menjadi ujian tersendiri sebelum tiba di lokasi pelayanan kesehatan.
Untuk mencapai Puskesmas Pameu, Kecamatan Rusip, Aceh Tengah, tim EMT harus menempuh perjalanan selama satu hari penuh dari Banda Aceh. Cuaca hujan yang masih terjadi menyebabkan sejumlah titik rawan banjir dan tanah longsor, sehingga perjalanan memakan waktu jauh lebih lama dari kondisi normal.
Salah satu relawan EMT RSU Aisyiyah Ponorogo, dr. Taufik Nur, mengatakan perjalanan dari Banda Aceh menuju Takengon yang biasanya dapat ditempuh sekitar lima jam, kini bisa memakan waktu lebih dari sepuluh jam.
“Cuaca hujan masih menjadi kendala tersendiri karena tanah longsor masih terjadi di sejumlah wilayah. Perjalanan dari Banda Aceh menuju Takengon yang normalnya lima jam, sekarang bisa lebih dari sepuluh jam,” ujar dr. Taufik Nur.
Ia menambahkan, untuk menuju Kecamatan Rusip diperlukan waktu sehari penuh, sehingga selama dua hari berada di Aceh, tim EMT masih banyak menghabiskan waktu di perjalanan.
“Untuk menuju Kecamatan Rusip perlu waktu sehari penuh, sehingga dua hari pertama kami masih fokus di perjalanan,” jelasnya.
Setibanya di Kecamatan Rusip, medan menuju Puskesmas Pameu semakin menantang. Berdasarkan arahan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh, akses ke lokasi hanya bisa dilalui menggunakan kendaraan roda dua. Bahkan, di beberapa titik, relawan harus menyeberangi sungai menggunakan tali baja dengan cara bergelantungan, layaknya wahana flying fox.
“Medan menuju Pameu sangat ekstrem. Di beberapa lokasi kami harus menyeberangi sungai dengan menggunakan tali baja,” ungkap dr. Taufik.
Selama kurang lebih 15 hari bertugas, tim EMT akan menghidupkan kembali pelayanan kesehatan di Puskesmas Pameu yang sempat terkendala operasional akibat bencana alam. Puskesmas tersebut membawahi sekitar enam hingga tujuh desa.
Hasil koordinasi dengan pihak puskesmas setempat menunjukkan kebutuhan paling mendesak adalah obat-obatan.
“Kebutuhan yang paling mendesak saat ini adalah obat-obatan, seperti obat flu, batuk pilek, diare, kencing manis, hingga hipertensi,” katanya.
Untuk mendukung tugas di daerah terpencil, tim EMT juga membawa berbagai perlengkapan nonmedis.
“Selain perlengkapan medis dan obat-obatan, kami membawa sleeping bag, alas tidur, dan kompor lapangan. Ini sebagai antisipasi karena perlengkapan seperti itu kemungkinan tidak tersedia di Pameu,” jelasnya.
Terkait tempat tinggal, tim relawan akan menyesuaikan dengan kondisi di lapangan, mulai dari puskesmas, barak militer, hingga rumah warga. Meski menghadapi medan berat, dr. Taufik memastikan seluruh anggota tim dalam kondisi sehat dan tetap bersemangat.
“Alhamdulillah, seluruh anggota tim dalam keadaan sehat dan tetap semangat menjalankan misi kemanusiaan,” pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, RSU Aisyiyah (RSUA) Ponorogo mengirimkan relawan EMT ke wilayah terdampak bencana di Aceh selama kurang lebih 15 hari, terhitung mulai 15 hingga 29 Januari 2026. Sebanyak delapan personel diterjunkan, terdiri dari dua dokter umum, empat perawat, satu petugas farmasi, dan satu petugas administrasi.



