
Tanah longsor terjadi di jalur penghubung Desa Wates, Kecamatan Jenangan, menuju Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel. Akibat peristiwa tersebut, kendaraan yang melintas harus ekstra hati-hati karena badan jalan yang tersisa kini hanya kurang dari satu meter.
Kondisi ini membuat pengguna jalan hanya mengandalkan sesek atau pembatas darurat yang berada di atas jalan sebagai pengaman. Jalur tersebut pun praktis tidak bisa dilalui kendaraan roda empat.
Kepala Desa Wates, Munaji, mengatakan kendaraan roda empat dipastikan tidak dapat melintas, sementara kendaraan roda dua masih bisa melewati lokasi dengan syarat tertentu.
“Untuk kendaraan roda empat jelas tidak bisa melintas. Kalau roda dua masih bisa, itu pun harus satu orang, tidak boleh berboncengan, dan pengendara harus benar-benar berani,” kata Munaji.
Munaji menjelaskan, longsor di lokasi tersebut bukan kali pertama terjadi. Namun hingga kini belum ada penanganan serius dari pemerintah daerah. Longsoran tanah semakin parah setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada Senin, 12 Januari 2025 lalu.
“Tanah longsor di lokasi ini sudah berulang kali terjadi, tapi sampai sekarang belum ada perhatian dari daerah. Hujan deras kemarin membuat kondisi semakin parah,” ujarnya.
Padahal, jalur penghubung Wates–Wagir Lor memiliki peranan vital bagi masyarakat, terutama sebagai akses utama anak-anak menuju sekolah serta jalur tercepat antarwilayah.
Sebagai alternatif, pengguna jalan dari arah Ngebel disarankan mengambil jalur lingkar Telaga Ngebel menuju Jalan Raya Ngebel tembus Ngrogung, dengan jarak tempuh sekitar 6 hingga 7 kilometer.
Diketahui, longsor serupa juga terjadi pada Oktober 2025 lalu, dengan panjang longsoran mencapai sekitar 25 hingga 35 meter. Pihak desa mengaku telah melaporkan kejadian tersebut kepada BPBD serta pihak-pihak terkait, berharap segera ada penanganan demi keselamatan warga.



