
Sebuah video yang memperlihatkan sejumlah anak sekolah digendong orang tuanya saat melintasi jembatan sesek rusak di Dusun Dayakan, Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, viral di media sosial. Video tersebut memicu keprihatinan publik karena kondisi jembatan yang sangat membahayakan.
Dalam rekaman video terlihat anak-anak harus melewati jembatan darurat dengan kondisi memprihatinkan. Di sisi kiri dan kanan jembatan terdapat jurang sedalam sekitar 20 meter. Sementara bagian bawah jembatan sudah tergerus longsor, sehingga badan jalan yang tersisa lebarnya kurang dari satu meter.
Winarsih, warga setempat, menuturkan pemandangan tersebut sudah menjadi hal yang kerap ditemui setiap pagi. Ia menyebut kondisi itu terjadi sejak jalur penghubung Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, dengan Desa Wates, Kecamatan Jenangan, terancam putus akibat longsor.
“Setiap pagi anak-anak berangkat sekolah harus digendong orang tuanya dan jalan kaki, karena jalurnya sudah tidak bisa dilewati kendaraan. Ini satu-satunya akses anak sekolah ke kota,” ujar Winarsih.
Menurutnya, jika harus melewati jalur alternatif, anak-anak sekolah harus memutar sejauh sekitar tiga kilometer, sehingga memberatkan warga. Meski saat ini jalan sudah bisa dilewati kembali secara terbatas, kondisi rangka dan tebing penopang jembatan sementara yang rawan longsor membuat warga tetap was-was.
“Kami takut jembatan ini roboh sewaktu-waktu, apalagi kalau hujan deras,” tambahnya.
Sementara itu, Gunanto, warga lainnya, menjelaskan bahwa jalan poros kabupaten tersebut sebenarnya sudah rusak sejak akhir tahun 2023. Jalan yang sebelumnya bisa dilalui kendaraan roda empat kini hanya dapat dilewati kendaraan roda dua.
“Dulu mobil masih bisa lewat, sekarang sudah tidak bisa. Bahkan Selasa, 13 Januari 2026 kemarin, jembatan sempat ambrol karena tergerus air hujan,” jelas Gunanto.
Ia mengungkapkan, meskipun jalan dan jembatan kini telah diperbaiki secara swadaya oleh warga, kondisi pondasi jalan masih sangat mengkhawatirkan. Kayu yang digunakan sebagai dasar jembatan darurat juga mulai lapuk termakan usia.
“Kalau hujan lebat, pondasi jalan ini rawan longsor lagi. Kami sudah sering melaporkan ke pihak berwenang, tapi sampai sekarang belum ada perbaikan permanen,” ungkapnya.
Gunanto menambahkan, aliran air yang terus menggerus pondasi jalan membuat jalur penghubung dua desa tersebut dikhawatirkan akan putus total jika tidak segera ditangani.
Sebagai informasi, jembatan darurat dari kayu dan bambu sepanjang sekitar 15 meter yang menghubungkan Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, dengan Desa Wates, Kecamatan Jenangan, sebelumnya sempat rusak parah akibat lapuk dan tergerus air hujan. Bahkan, sempat tersisa badan jalan selebar sekitar 20 sentimeter yang hanya berani dilewati orang dewasa dengan berjalan kaki.



