
Jumlah kejadian kebakaran di Ponorogo mengalami penurunan signifikan sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data Satpol PP dan Damkar, tercatat 61 kejadian kebakaran pada 2025, turun sekitar 40 persen dibanding tahun 2024 yang mencapai 100 kejadian.
Kabid Damkar dan Penyelamatan Satpol PP dan Damkar Ponorogo, Bambang Supeno, menyebut kebakaran tahun 2025 didominasi kasus kebakaran rumah.
“Dari total kejadian, kebakaran bangunan rumah mencapai 30 kasus atau sekitar 50 persen,” jelas Bambang.
Jenis kebakaran lainnya yang cukup sering terjadi adalah kebakaran lahan dan bambu, dengan 13 kejadian sepanjang 2025. Puncak insiden kebakaran tercatat pada September 2025, yakni sebanyak 13 kejadian dalam satu bulan.
“Puncaknya terjadi di bulan September. Saat itu cuaca kering, sehingga api mudah merambat,” katanya.
Bambang menambahkan, total kerugian akibat kebakaran sepanjang 2025 diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Kerugian terbesar biasanya terjadi pada kebakaran skala besar seperti kandang ayam, seperti yang pernah terjadi di wilayah Jenangan dan Balong.
“Kalau kebakaran kandang ayam, sekali kejadian bisa menimbulkan kerugian besar. Nilainya miliaran rupiah,” ujarnya.
Untuk penyebab kebakaran, sebagian besar masih dipicu kelalaian manusia.
“Penyebab terbanyak tetap human error — seperti lupa mematikan kompor, korsleting karena instalasi listrik tidak aman, dan pembakaran sampah yang tidak diawasi,” terang Bambang.
Sepanjang tahun, Damkar juga menangani empat kasus kebakaran kendaraan.
Menurut Bambang, turunnya angka kebakaran tidak lepas dari gencarnya sosialisasi yang dilakukan ke masyarakat serta kerja sama dengan pemerintah desa.
“Kami rutin sosialisasi bahaya kebakaran dan cara pencegahannya. Selain itu, kami bekerja sama dengan desa-desa untuk edukasi warga. Kesadaran masyarakat mulai meningkat,” tambahnya.



