
Selain sebagai ajang kesehatan dan kebugaran, olahraga lari juga kerap dijadikan momen untuk mengabadikan foto. Fenomena ini menciptakan peluang baru yang menguntungkan bagi para fotografer lokal.
Salah satunya adalah Tyan, fotografer asal Kota Reog, yang mengaku awalnya hanya menjadikan kegiatan ini sebagai usaha sampingan. Namun, sejak setahun terakhir, fotografi lari menjadi prioritas utama baginya. Bermodalkan kamera dan keahlian memotret, ia mampu meraup keuntungan dari momen-momen lari yang dilalui peserta.
Tyan biasanya memilih lokasi unik, seperti tikungan tajam atau garis finis, di mana ekspresi peserta terlihat lebih jelas. Setelah itu, foto-foto tersebut ia unggah ke platform digital agar peserta bisa dengan mudah menemukannya. Saat ini banyak aplikasi yang memudahkan fotografer untuk memasarkan hasil jepretannya. Teknologi ini memungkinkan peserta mengunduh foto tanpa perlu berinteraksi langsung dengan fotografer, menjadikan proses lebih efisien dan praktis.
Untuk event lari di Kota Ponorogo, Tyan memasang tarif sekitar Rp15.000 hingga Rp50.000 per foto. Sementara itu, untuk event di luar kota, tarifnya berkisar Rp35.000 hingga Rp100.000 per foto. Pendapatannya sejak maraknya tren olahraga lari meningkat lebih dari 100 persen.
Sebelumnya, Tyan dikenal sebagai fotografer olahraga balap motor. Kini, ia menemukan ceruk baru yang menjanjikan di balik tren lari yang tengah digandrungi masyarakat.



