
Sejumlah petani di wilayah selatan Ponorogo mengeluhkan proyek normalisasi aliran irigasi Waduk Bendo. Pasalnya, proyek tersebut dikerjakan berbarengan dengan masa tanam padi yang membutuhkan suplai air. Akibatnya, aliran air sempat mandek dan membuat petani kalang kabut.
Menanggapi hal itu, konsultan pengawas pelaksana proyek, Satrio Wahyu, menegaskan pihaknya sudah membuka aliran air secara terbatas agar petani tetap bisa menanam.
“Minggu lalu, tepatnya tanggal 16–22 Agustus, pintu air sudah kami buka agar petani bisa melakukan tanam padi. Setelah itu, pintu air kembali ditutup untuk melanjutkan pengerjaan,” jelasnya.
Wahyu menambahkan, selama proses pengerjaan irigasi hingga ditargetkan selesai Desember 2025, pembukaan pintu air akan dilakukan dua minggu sekali dengan durasi dua hari. Hal itu, kata dia, sudah disosialisasikan sejak Maret lalu melalui camat, kepala desa, HIPPA, dan Gapoktan.
“Memang selama pengerjaan ini kebutuhan air tidak bisa sepenuhnya terpenuhi seperti sebelumnya. Petani kami minta bisa mencukupi kebutuhan air sendiri untuk sementara. Proyek ini harus selesai tahun ini,” tegasnya.
Lebih lanjut, Wahyu menjelaskan panjang saluran irigasi yang diperbaiki mencapai 25 kilometer, melintasi 10 kecamatan dan 67 desa, dengan total anggaran Rp30 miliar dari APBN.
“Kami minta petani memaklumi. Kalau proyek ini rampung, aliran air akan jauh lebih lancar dan dampaknya positif bagi pertanian,” ujarnya.



