
Kenaikan harga bawang merah yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir membuat sejumlah pedagang di Pasar Legi Ponorogo memilih untuk libur berjualan. Salah satunya adalah Rudi, pedagang bawang merah (brambang) yang mengaku sudah 20 hari terakhir menutup lapaknya dan beristirahat di rumah.
Menurut Rudi, sejak harga bawang merah melonjak, penjualan menurun drastis. Daya beli konsumen turun, yang biasanya membeli 1 kilogram kini hanya seperempat kilogram saja.
“Sekarang orang beli seperempat, paling banyak setengah kilo. Kalau kulakan banyak risikonya tinggi. Harga naik turun, kalau salah perhitungan bisa rugi besar,” ujarnya.
Ia menambahkan, harga bawang yang tak stabil membuat para pedagang harus berpikir ulang untuk kulakan dalam jumlah besar. Hal serupa juga terjadi pada komoditas cabai. Ia pernah mengalami kerugian karena stok yang terlanjur banyak, tetapi harga tiba-tiba anjlok.
“Mau dijual sesuai harga kulakan, pembeli kabur. Tapi kalau dijual murah, rugi. Kalau disimpan kelamaan, bisa busuk,” keluhnya.
Rudi mengaku belum bisa memastikan kapan akan kembali berjualan. Ia memilih menunggu harga bawang merah stabil terlebih dahulu.
Meski begitu, kabar terbaru menyebutkan bahwa harga bawang merah mulai turun. Dari yang sebelumnya menembus di atas Rp40 ribu per kilogram, kini berada di kisaran Rp36 ribu hingga Rp38 ribu per kilogram.



