
Gelaran budaya Ponorogo Rikolo Semono tak hanya menghadirkan nuansa tempo dulu yang kental, namun juga membawa berkah tersendiri bagi pelaku UMKM di Kota Reog. Selain jajanan tradisional yang laris manis, permintaan pakaian adat seperti surjan dan lurik pun melonjak tajam.
Widi, salah satu pengusaha pakaian tradisional di Ponorogo, mengaku penjualannya meningkat signifikan selama gelaran berlangsung. “Permintaan naik sekitar 30 hingga 50 persen dibanding hari biasa. Banyak konsumen, terutama ASN, mencari surjan dan lurik karena adanya instruksi dari pemkab agar mengenakan pakaian tradisional selama acara,” jelasnya.
Untuk pakaian dengan kualitas standar, harga dibanderol sekitar Rp 75 ribu per potong. Menariknya, karena acara berlangsung selama 10 hari, tak sedikit konsumen yang membeli lebih dari satu set pakaian.
Menurut Widi, berbagai event yang digagas Pemkab Ponorogo mulai membangkitkan kembali gairah pelaku UMKM, yang sebelumnya terpuruk akibat pandemi COVID-19.
“Adanya momen-momen seperti ini sangat membantu. UMKM seperti kami bisa kembali hidup,” tambahnya.
Terlebih, saat ini Ponorogo tengah menapaki peluang besar setelah terpilih sebagai calon anggota UNESCO Creative Cities Network (UCCN). Harapannya, gelaran budaya semacam ini bisa terus konsisten digelar untuk menguatkan identitas budaya sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.



