
Di balik gemerlap prestasi Kontingen Ponorogo yang sukses mengoleksi 9 medali emas, 11 perak, dan 18 perunggu dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) IX Jawa Timur 2025, terselip kisah haru dan inspiratif dari salah satu atletnya, Dinika Nur Afina.
Atlet pencak silat asal Dusun Bangunsari, Desa Sukosari, Kecamatan Babadan itu mempersembahkan satu dari sembilan medali emas bagi Ponorogo. Namun, tak banyak yang tahu bahwa perjuangannya di arena diwarnai derita dan rasa sakit luar biasa.
Saat bertanding di babak perempat final, jari manis tangan kanan Dinika mengalami benturan keras yang menyebabkan bengkak hebat di punggung tangan. Kondisinya kian memburuk, namun semangatnya tak surut.
“Waktu itu tangan Dinika sudah dibebat dengan kinesiotape dan dia hanya dibekali obat pereda nyeri. Tapi dia tetap nekat bertanding di semifinal melawan Kabupaten Malang. Dia menang, lanjut ke final lawan Kabupaten Magetan dan tetap bertarung dengan sepenuh hati,” cerita Aji Bangkit Pamungkas, pelatih Dinika.
Luar biasanya, Dinika tetap tampil prima di atas gelanggang meski menahan sakit luar biasa. Setelah tiba kembali di Ponorogo dan diperiksa di RSU Aisyiyah, hasil diagnosis menunjukkan tulang punggung tangannya patah.
“Bayangkan rasa sakit yang dia tahan di setiap gerakan tanding. Tapi dia tidak menyerah. Dinika bertarung bukan hanya dengan teknik dan kekuatan, tapi dengan tekad luar biasa. Dia adalah simbol ketangguhan sejati,” tambah Aji.
Kini, perjuangan Dinika menjadi sorotan dan inspirasi. Ia bukan hanya membawa pulang medali emas, tapi juga membawa pesan kuat tentang semangat juang, ketabahan, dan cinta pada tanah kelahiran.
Sebagai catatan, prestasi Kontingen Ponorogo dalam Porprov kali ini menunjukkan peningkatan signifikan. Dari 22 cabang olahraga yang diikuti, Ponorogo berhasil mengumpulkan total 38 medali dan menempati peringkat 27 Jawa Timur. Salah satu emas terbaik itu lahir dari tangan pejuang bernama Dinika.



