
Sepanjang enam bulan terakhir atau semester pertama tahun 2025, Kabupaten Ponorogo dilanda 110 kejadian bencana alam. Data tersebut tercatat di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo.
Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, menyebut bencana paling banyak berupa tanah longsor.
“Dari total 110 kejadian bencana, sebanyak 59 di antaranya adalah tanah longsor,” ujar Masun, Kamis (4/7/2025).
Masun menambahkan, bencana lain yang juga mendominasi adalah banjir sebanyak 41 kejadian dan cuaca ekstrem seperti angin puting beliung dan angin kencang sebanyak 10 kejadian.
“Berbagai kejadian itu tersebar hampir di seluruh kecamatan di Ponorogo, kecuali Kecamatan Mlarak,” jelasnya.
Kejadian terakhir yang tercatat pada semester pertama 2025 adalah longsor bebatuan di kawasan wisata Telaga Ngebel yang mengakibatkan dua orang luka-luka.
“Meski jumlah bencana cukup tinggi, Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Hanya ada warga yang terdampak secara material,” ungkap Masun.
Ia menyebut, kerugian akibat bencana tersebut diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Sebagai perbandingan, pada tahun 2024 lalu jumlah bencana di Ponorogo mencapai 347 kejadian. Di antaranya, 110 tanah longsor, 89 banjir, dan 67 kejadian cuaca ekstrem. Bencana terparah terjadi pada bulan November dan pertengahan Desember.



