
Perayaan Grebeg Suro 2025 tak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, namun juga membawa berkah ekonomi bagi para pelaku UMKM, salah satunya pengusaha batik. Omzet penjualan batik di Ponorogo tercatat naik hingga 50 persen selama gelaran tahunan ini berlangsung.
Dwi Riska, salah satu pengusaha batik yang memiliki galeri di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Surodikraman, mengungkapkan bahwa sejak pembukaan hingga penutupan Grebeg Suro, pengunjung yang datang ke rumah batiknya meningkat signifikan.
“Rata-rata pengunjung datang dari luar daerah. Mereka ke Ponorogo untuk menyaksikan Grebeg Suro, lalu mampir ke sini cari oleh-oleh. Kebanyakan memilih kain batik untuk dibawa pulang,” ungkap Dwi, Jumat (27/6/2025).
Ia menjelaskan, tempat usahanya menyediakan berbagai jenis batik, mulai dari batik tulis, batik lukis, batik printing, hingga kombinasi. Harga yang ditawarkan pun bervariasi, tergantung dari teknik pembuatannya.
“Kalau batik printing mulai dari Rp65 ribu per lembar. Tapi kalau batik tulis, bisa ratusan ribu rupiah tergantung motif dan kerumitan pengerjaannya,” jelasnya.
Meski demikian, Dwi menilai karakter pembeli cukup beragam. Tidak semua pembeli mencari batik khas Ponorogo secara spesifik.
“Kadang mereka beli batik dari daerah lain juga, yang penting dijual di Ponorogo dan bisa jadi kenang-kenangan. Tidak selalu fanatik harus khas Ponorogo,” ujarnya.
Dwi bersyukur penjualan batik tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan momen Grebeg Suro tahun sebelumnya.
“Tahun ini lebih ramai dan penjualan juga lebih bagus. Semoga tahun depan bisa lebih meriah lagi,” pungkasnya.



