
Panti Duafa Manula yang dikelola Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) di Desa Turi, Kecamatan Jetis, Ponorogo, mengalami kelebihan kapasitas. Panti yang semestinya hanya mampu menampung 100 orang, kini dihuni 153 orang hingga pertengahan tahun ini.
Pengurus Panti, Rama Pilip, menyebut lonjakan jumlah penghuni terutama berasal dari luar daerah.
“Yang paling banyak dari Pacitan, sebagian besar merupakan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ),” ungkap Rama, Jumat (24/5). “Sisanya berasal dari Ponorogo, Madiun, Trenggalek, Blitar, dan Tulungagung. Kami sudah menjalin MoU dengan kabupaten-kabupaten tersebut.”
Meski kapasitas melebihi batas ideal, pihak panti mengaku masih bisa memberikan pelayanan yang layak dengan menambah jumlah petugas.
“Dulu hanya delapan petugas, sekarang kami tambah jadi sebelas. Jadi masih bisa tertangani,” katanya.
Untuk mengatasi keterbatasan ruang, Rama menjelaskan bahwa penghuni yang masih tergolong usia produktif ditempatkan di aula yang lebih luas. Namun, kendala utama tetap pada keterbatasan tempat tidur.
“Yang jadi masalah sekarang tempat tidur. Kami kekurangan bed, jadi beberapa harus tidur di lantai,” tambahnya.
Rama juga menuturkan bahwa untuk perawatan medis, khususnya bagi penghuni dengan status ODGJ, pihaknya secara rutin mengirim mereka ke Rumah Sakit Jiwa Lawang, Malang.
“Setiap dua minggu sekali, ODGJ kami bawa ke RSJ Lawang untuk pengobatan. Itu sudah jadi agenda rutin kami,” jelasnya.
Pihak panti berharap ada perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat luas, mengingat semakin meningkatnya kebutuhan pelayanan bagi kaum duafa lanjut usia dan ODGJ.



