
Cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Ponorogo dalam beberapa hari terakhir menyebabkan terjadinya sejumlah bencana alam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo mencatat sebanyak 10 kejadian bencana alam sejak awal Mei hingga pertengahan bulan ini.
Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, menyebutkan bahwa dari 10 kejadian tersebut, tujuh di antaranya adalah tanah longsor, dua kasus angin kencang, dan satu peristiwa banjir.
“Total ada 58 jiwa terdampak, termasuk rumah warga dan beberapa infrastruktur yang mengalami kerusakan,” jelas Masun.
Kejadian paling parah terjadi di Desa Jrakah, Kecamatan Sambit, pada Kamis (15/5) lalu. Longsor yang terjadi secara tiba-tiba pada malam hari itu merusak sedikitnya sebelas rumah dan berdampak pada 11 kepala keluarga (KK) atau 28 jiwa.
Selain itu, perhatian juga tertuju pada peristiwa longsor di Desa sekaligus Kecamatan Ngebel, Sabtu (17/5), yang menerjang rumah kepala desa setempat. Dalam kejadian tersebut, empat warga, termasuk pemilik rumah, harus dilarikan ke puskesmas karena mengalami luka-luka.
Masun menjelaskan bahwa sebagian besar longsor disebabkan oleh kombinasi faktor tanah yang labil akibat hujan deras, kontur lahan yang curam, serta minimnya sistem drainase di daerah rawan bencana.
“Rata-rata kejadian ini dipicu oleh kondisi geografis dan curah hujan tinggi yang tidak diimbangi dengan sistem drainase yang memadai,” tambahnya.
Sebagai respons cepat, BPBD telah mengirimkan bantuan darurat kepada warga terdampak. Bantuan yang diberikan meliputi selimut, family kit, dan makanan siap saji.
Sementara itu, berdasarkan rilis dari BMKG, cuaca ekstrem diprediksi masih akan berlangsung hingga akhir Mei 2025. BPBD mengimbau warga, khususnya yang tinggal di daerah rawan longsor dan banjir, untuk tetap waspada dan segera melaporkan jika terjadi tanda-tanda bahaya.



