
Memasuki bulan Ramadan, Kabupaten Ponorogo kembali menjadi sasaran kalangan pengemis dan pengamen untuk mencari rezeki. Kondisi ini kerap terjadi setiap tahun, terutama di titik-titik keramaian saat aktivitas masyarakat meningkat menjelang berbuka puasa hingga malam hari.
Untuk mengantisipasi potensi gangguan ketertiban dan kenyamanan masyarakat, Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Ponorogo bersama Damkar intensif melakukan patroli di sejumlah titik strategis sesuai pengaduan warga.
Kabid Trantib Satpol PP Ponorogo, Subiyantoro, mengatakan patroli rutin dilakukan setiap malam selama Ramadan.
“Setiap malam kami melakukan patroli di antaranya di Alun-Alun Ponorogo, Jalan HOS Cokroaminoto, serta sejumlah ruas jalan utama di Kota Reog,” ujarnya.
Dari hasil patroli sementara, petugas belum mengamankan pengemis maupun pengamen. Namun, petugas sempat hampir mengamankan seorang pengemis yang beraksi di lampu merah Somoroto.
“Petugas sempat akan menangkap pengemis di lampu merah Somoroto. Diduga yang bersangkutan sudah melihat mobil patroli kami datang dari arah timur sehingga langsung kabur menggunakan sepeda motor yang diparkir di area rumah sakit,” jelas Subiyantoro.
Ia menambahkan, operasi penertiban pengemis dan pengamen akan terus dilakukan, bahkan frekuensinya ditingkatkan pada H-7 hingga H+7 Lebaran.
“Operasi ini akan kami tingkatkan menjelang dan setelah Lebaran, karena biasanya jumlah mereka juga bertambah,” tegasnya.
Menurutnya, selama ini Ponorogo kerap dianggap sebagai “surga” bagi pengemis. Meski razia rutin dilakukan, mereka tetap kembali lagi.
“Mayoritas pengemis yang kami temukan berasal dari luar daerah, bahkan luar Jawa. Ada yang bekerja secara berkelompok, menyewa mobil, dan menginap di hotel selama beroperasi di Ponorogo,” pungkasnya.



