
Jajaran Polsek Jambon, Ponorogo, melakukan pendangkalan dan pemagaran kedung sungai di Dukuh Sidowayah, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, pasca tragedi memilukan yang merenggut nyawa empat bocah di lokasi tersebut.
Kapolsek Jambon, AKP Purwadi Sekiantoro, mengatakan langkah tersebut merupakan tindak lanjut instruksi Kapolres Ponorogo agar kejadian serupa tidak terulang.
“Pendangkalan dan pemagaran ini kami lakukan sesuai instruksi Kapolres agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Lokasi ini sangat membahayakan karena berada di bawah jurang dan kedung akan penuh air saat musim penghujan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebelumnya ketinggian air di kedung tersebut mencapai sekitar 140 sentimeter atau setinggi dada orang dewasa. Setelah dilakukan pendangkalan, ketinggian air kini berada di bawah pinggang orang dewasa.
“Awalnya kedalaman air sekitar 140 sentimeter. Sekarang setelah didangkalkan, ketinggiannya di bawah pinggang orang dewasa,” jelasnya.
Selain pendangkalan, petugas juga memasang pagar mengelilingi kedung menggunakan bambu dan kayu sebagai upaya pengamanan tambahan.
“Kami juga pasang pagar keliling dari bambu dan kayu agar anak-anak tidak mudah mendekat ke lokasi,” tambahnya.
AKP Purwadi berharap peristiwa kecelakaan air yang merenggut empat nyawa bocah tersebut menjadi pelajaran dan meningkatkan kewaspadaan para orang tua dalam mengawasi anak-anaknya.
“Kami berharap ini menjadi kewaspadaan bagi para orang tua untuk selalu mengawasi putra-putrinya. Jika anak-anak bermain di luar rumah dalam waktu lama, segera dicari. Apalagi kalau di dekat rumah ada kolam atau sungai,” tegasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, tragedi memilukan terjadi di Dukuh Sidowayah, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Jumat (6/2/2026) siang. Empat bocah ditemukan tewas tenggelam di cekungan air atau kedung di bawah jurang yang lokasinya tak jauh dari rumah mereka.
Keempat korban masing-masing bernama Sakila Lafatunissa (5), Muhammad Alwi Assegaf (5), Arlin Anatasya Elvita Saputri (6), dan Jihan Hasna Mufida (6). Sebagian korban masih bersekolah di Kelompok Bermain, sementara satu lainnya duduk di bangku sekolah dasar.



