
Ilustrasi
Program gentengisasi yang digagas Presiden Prabowo Subianto disambut antusias kalangan pengrajin genteng tradisional di Desa Wringinanom, Kecamatan Sambit, Ponorogo. Para pengrajin berharap program tersebut mampu mengangkat kembali perekonomian lokal sekaligus membuka lapangan pekerjaan.
Salah satu pengusaha genteng setempat, Subandi, mengatakan para perajin menyambut baik rencana tersebut di tengah kondisi industri genteng tanah liat yang sempat terpuruk.
“Sejak Covid-19, jumlah produsen genteng di wilayah kami terus menurun. Banyak yang gulung tikar karena terkendala modal dan persaingan usaha,” ujarnya.
Menurutnya, perubahan tren penggunaan material bangunan juga turut memengaruhi turunnya permintaan. Banyak konsumen beralih ke baja ringan, genteng metal, maupun beton.
“Sekarang banyak yang memilih baja ringan, genteng metal, atau beton, sehingga permintaan genteng tanah liat turun drastis,” jelasnya.
Subandi menyebut, dalam tiga tahun terakhir jumlah pengrajin genteng di Wringinanom Sambit tersisa sekitar 40 persen dari sebelumnya. Karena itu, program gentengisasi dinilai menjadi angin segar bagi para produsen yang ingin bangkit.
“Dengan adanya program gentengisasi ini, kami seperti mendapat semangat baru untuk bangkit kembali,” katanya.
Ia berharap pemerintah benar-benar merealisasikan program tersebut dengan melibatkan para pengrajin secara langsung.
“Kalau program ini benar-benar direalisasikan, kami berharap para pengrajin didata ulang dan didengar apa saja keluhan selama ini. Kalau memang kendalanya di permodalan dan pemasaran, semoga ada bantuan dari pemerintah,” harapnya.
Lebih lanjut, Subandi menjelaskan bahwa pangsa pasar genteng tanah liat sebenarnya masih terbuka. Bahkan dalam tiga tahun terakhir, permintaan dari konsumen cenderung meningkat.
“Permintaan sebenarnya naik dalam tiga tahun terakhir. Hanya saja untuk bulan-bulan ini harus inden dulu karena musim penghujan membuat produksi tidak bisa maksimal,” jelasnya.



