
Jumlah warga Ponorogo yang mengalami masalah kesehatan mental menunjukkan tren peningkatan. Hal ini terlihat dari bertambahnya jumlah pasien yang berobat di Poli Kejiwaan RSU Aisyiyah (RSUA) Ponorogo.
Pada tahun 2025 lalu, rata-rata pasien yang ditangani setiap bulan sebanyak 289 orang. Namun pada Januari 2026, jumlah tersebut meningkat menjadi 364 pasien dalam sebulan.
Kepala Bidang Humas dan Pemasaran RSUA Ponorogo, Moh Arbain, membenarkan adanya kenaikan jumlah pasien tersebut.
“Memang ada kenaikan yang cukup signifikan. Pada 2025 rata-rata 289 pasien per bulan, sedangkan Januari 2026 mencapai 364 pasien,” ujarnya.
Arbain menjelaskan, pasien yang datang ke poli jiwa mengalami berbagai persoalan kesehatan mental, mulai dari gangguan ringan, sedang, hingga berat.
“Mereka yang datang berobat ke poli jiwa memiliki berbagai masalah kesehatan mental, baik ringan, sedang, maupun berat,” jelasnya.
Selama ini, RSUA Ponorogo hanya melayani pasien rawat jalan untuk poli kejiwaan. Sementara untuk pasien dengan gangguan jiwa berat yang membutuhkan perawatan inap, pihak rumah sakit akan merujuk ke RSUD dr Harjono Ponorogo.
“Untuk gangguan jiwa berat yang harus menjalani rawat inap, kami rujuk ke RSUD dr Harjono,” tambahnya.
Lebih lanjut Arbain mengungkapkan, pasien yang berobat didominasi usia produktif, yakni antara 17 hingga 24 tahun. Bahkan, ada pula pasien yang masih berusia anak-anak.
“Mayoritas usia produktif 17 sampai 24 tahun. Ada juga yang masih usia anak-anak, sekitar 9 hingga 15 tahun,” terangnya.
Disinggung mengenai penyebab meningkatnya kasus tersebut, Arbain menganalisis faktor ekonomi menjadi salah satu pemicu, khususnya bagi usia produktif.
“Kalau dilihat dari yang terdampak masih usia produktif, dimungkinkan karena faktor ekonomi. Mereka sudah menempuh pendidikan tinggi, tetapi setelah lulus kesulitan mencari pekerjaan sehingga akhirnya mengalami depresi,” pungkasnya.



