
Rama Philips, pengelola Panti Dhuafa Lansia Jetis Ponorogo. (Foto/Istimewa)
Masih adanya ODGJ di Ponorogo yang terpaksa dikurung maupun dipasung karena dianggap membahayakan, membuat prihatin Rama Philips, pengelola Panti Dhuafa Lansia Jetis. Kepada gema surya Lelaki yang telah puluhan tahun merawat pasien gangguan jiwa itu menilai, ODGJ yang mengamuk kerap disebabkan kurangnya perhatian dari pihak keluarga dan lingkungan sekitar.Â
Berdasarkan pengalamannya, ODGJ yang telah keluar dari rumah sakit jiwa justru sering dikucilkan.Padahal, mereka membutuhkan perhatian khusus, di mana keluarga harus rutin melakukan komunikasi dan pendampingan. Karena itu, setiap ODGJ yang direhabilitasi di pantinya, edukasi pertama kali justru diberikan kepada keluarga dan lingkungan sekitar.
Lebih lanjut dijelaskan, selain pengobatan yang tidak boleh terputus, pasien ODGJ juga memerlukan pendekatan melalui rehabilitasi. Saat ini, hampir semua wilayah telah memiliki Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) yang menyediakan pelayanan obat bagi pasien ODGJ. Jika sudah menjalani pengobatan namun belum menunjukkan perkembangan, pasien sebaiknya dibawa ke panti atau rumah sakit jiwa untuk mendapatkan rehabilitasi lanjutan.
Di Panti Dhuafa Jetis, lanjut Rama, saat ini terdapat sekitar 120 pasien dengan kondisi gangguan jiwa. Dari ratusan pasien yang telah ditanganinya, puluhan di antaranya dinyatakan sembuh dan kembali hidup normal di masyarakat.



