
Mediasi antara ojol dan penjual nasgor dilakukan bersama kepolisian. (Foto/Indro)
Sempat viral di media sosial, perseteruan antara pemilik usaha nasi goreng di Jl.Thamrin dengan kalangan ojek online (ojol) terjadi pada Minggu malaM 18 Januari 2026. Selama ini, para ojol merasa dirugikan lantaran pedagang nasi goreng tersebut nekat membuka layanan penjualan secara online, sementara fasilitas dan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki belum memadai.
Kalangan ojol pun berharap pedagang tersebut menutup sementara layanan aplikasi dan hanya melayani pembelian secara offline. Namun, anjuran yang disampaikan melalui ulasan di Google Review justru ditanggapi dengan kata-kata pedas dan menyakitkan. Karena sudah lama memendam emosi, puluhan ojol akhirnya mendatangi tempat usaha tersebut.
Indro, salah satu ojol saat dikonfirmasi Senin (19/01) menjelaskan bahwa selama ini yang membalas ulasan di Google Review ternyata adalah anak dari penjual nasi goreng. Ponsel yang digunakan untuk keperluan bisnis dipegang oleh sang anak yang berada di Desa Wayang, Kecamatan Pulung. Sementara itu, orang tuanya yang berjualan di Jalan Thamrin tidak memegang ponsel karena kurang memahami layanan penjualan online.
Kondisi tersebut menyebabkan miskomunikasi antara pedagang dan ojol terkait pesanan, sehingga kerap menimbulkan komplain dari pelanggan. Saat para ojol menyampaikan keluhan, balasan yang diterima justru bernada menyakitkan. Bahkan, ketika diminta menutup aplikasi, yang bersangkutan menolak dan menyampaikan pernyataan tidak pantas, seperti menyarankan lebih baik menjadi tukang begal atau manusia silver.
Indro menambahkan, apabila kondisi tersebut dibiarkan, dampaknya sangat merugikan ojol. Pasalnya, ketika pelanggan kecewa dan memberikan ulasan buruk, akun ojol bisa terkena sanksi hingga suspend, yang berujung pada hilangnya pekerjaan.
Lebih lanjut dikatakan, pada Minggu malam puluhan ojol mendatangi rumah anak pedagang nasi goreng tersebut di Desa Wayang, Kecamatan Pulung. Setelah dilakukan mediasi oleh Polsek Pulung di Polsek Pulung, akhirnya disepakati beberapa poin kesepakatan. Di antaranya, pedagang nasi goreng menyampaikan permintaan maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya, menutup sementara aplikasi penjualan online selama fasilitas dan SDM belum siap, serta menghapus seluruh jawaban bernada menyakitkan di Google Review.



