
Kepala Desa Jabung, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, Budi Ratno, angkat bicara menanggapi viralnya unggahan di media sosial yang mempertanyakan harga Dawet Jabung sebesar Rp7.000 per mangkuk yang dinilai mahal oleh warganet.
Menurut Budi Ratno, unggahan tersebut dinilai kurang jelas karena tidak mencantumkan lokasi tempat pembelian dawet yang dimaksud. Padahal, Dawet Jabung saat ini sudah banyak dijual di berbagai tempat dan tidak selalu berada di wilayah Desa Jabung Mlarak.
“Yang diposting itu tidak dijelaskan belinya di mana. Padahal Dawet Jabung sekarang sudah ada di mana-mana, tidak selalu di wilayah Desa Jabung Mlarak,” kata Budi Ratno.
Ia menjelaskan, harga juga sangat dipengaruhi oleh lokasi penjualan. Jika dawet dibeli di restoran atau tempat tertentu, maka harga bisa saja lebih mahal dibandingkan pedagang kaki lima.
“Kalau belinya di restoran, tentu harganya bisa lebih mahal lagi. Jadi tidak bisa disamaratakan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Budi Ratno menegaskan bahwa pemerintah desa tidak memiliki aturan khusus terkait patokan harga Dawet Jabung. Namun, secara umum harga yang dipasang pedagang di wilayahnya masih tergolong wajar.
“Tidak ada aturan khusus dari desa soal harga. Tapi rata-rata pedagang dawet di sini menjual Rp5.000 per mangkuk, sementara gorengan Rp1.000 per biji,” ujarnya.
Ia mengakui, jika ada pedagang yang mematok harga Rp7.000 per mangkuk, maka harga tersebut memang berada di atas harga normal. Oleh karena itu, pihaknya membuka ruang bagi konsumen untuk menyampaikan keluhan.
“Kalau memang ada yang merasa membeli dawet di atas harga Rp5.000, silakan lapor ke desa, tapi harus jelas lokasinya di mana. Nanti bisa kami tindak lanjuti, setidaknya pedagang akan kami ingatkan,” tegasnya.
Budi Ratno juga mengingatkan bahwa Dawet Jabung merupakan ikon kuliner Ponorogo yang menjadi salah satu tujuan wisata kuliner bagi wisatawan. Ia khawatir jika unggahan semacam itu dibiarkan tanpa klarifikasi, justru akan berdampak negatif terhadap citra pariwisata daerah.
“Dawet Jabung ini sudah menjadi ikon Ponorogo dan jujugan wisatawan. Kami khawatir kalau postingan seperti itu dibiarkan liar, bisa berdampak pada pariwisata,” pungkasnya.



