
Puluhan hektare tanaman padi di Ponorogo dipastikan gagal panen (puso) setelah terendam banjir dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan catatan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Distanakkan), terdapat sekitar 28 hektare tanaman padi yang puso, tersebar di wilayah Kecamatan Siman dan Jetis.
Rinciannya, di Desa Madusari Siman terdapat 11 hektare, di Josari 2,7 hektare, dan di Winong Jetis 9,8 hektare.
Koordinator Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Distanakkan Ponorogo, Suwarni, menyebut angka tersebut berpotensi bertambah karena masih ada wilayah yang genangannya belum surut.
“Data sementara ada 28 hektare yang puso. Kemungkinan masih bertambah, karena di wilayah Balong ada laporan air belum surut,” ujar Suwarni.
Ia menjelaskan, tanaman padi yang terendam banjir lebih dari lima hari hampir dipastikan tidak dapat diselamatkan.
“Kalau padi terendam lebih dari lima hari, biasanya mati. Batang membusuk dan tidak bisa tumbuh normal lagi,” terangnya.
Secara keseluruhan, area persawahan yang terdampak banjir awal tahun ini tersebar di tujuh kecamatan, yakni Bungkal, Balong, Siman, Slahung, Jetis, dan Kauman, dengan total lahan terdampak sekitar 538 hektare. Rata-rata umur tanaman berada pada kisaran 7 hingga 35 hari.
Untungnya, sebagian petani di Madusari, Siman, dan Jetis telah mengikuti program asuransi pertanian.
“Bagi petani yang ikut asuransi, kerugiannya bisa terbantu. Kami berharap semakin banyak petani mau ikut asuransi, sehingga saat bencana datang, bebannya tidak terlalu berat,” kata Suwarni.
Dinas juga berupaya agar petani yang tanamannya mati akibat terendam banjir dapat memperoleh bantuan cadangan benih dari pemerintah untuk musim tanam berikutnya.
Selain ancaman banjir, Suwarni mengingatkan petani agar mewaspadai serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), khususnya wereng.
“Selain banjir, sekarang yang perlu diwaspadai adalah wereng. Petani harus rutin melakukan pengamatan dini. Semakin cepat diketahui, semakin mudah dikendalikan,” pesannya.
Pemerintah mengimbau petani tetap berkoordinasi dengan petugas lapangan agar langkah penanganan dan pemulihan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.



