
Memasuki awal tahun, biasanya masyarakat mulai menghadapi musim penghujan. Namun, kondisi tahun ini berbeda. Sejak akhir 2024 hingga awal Januari 2025, curah hujan di sejumlah wilayah Ponorogo justru terbilang rendah dan sulit diprediksi.
Situasi tersebut sempat dikeluhkan para petani karena musim tanam yang biasanya dimulai setelah “lepas tumbuk” tak kunjung berjalan normal. Beberapa petani bahkan menyebut cuaca saat ini lebih mirip musim kemarau.
Petani asal wilayah Sukorejo, Ratna Tri Narmi, mengatakan perubahan pola hujan membuat petani harus semakin berhati-hati dalam mengatur jadwal tanam.
“Musim sekarang tidak bisa diprediksi. Ini tantangan besar bagi petani untuk bisa bertahan,” ujarnya.
Menurut Ratna, sejak Desember hingga awal Januari, intensitas hujan sangat rendah. Akibatnya, sebagian petani yang seharusnya sudah mulai tanam justru mengalami kendala.
“Banyak yang seharusnya sudah masuk masa tanam, tapi kesulitan karena air kurang. Ada yang dirugikan, tapi ada juga yang diuntungkan,” tambahnya.
Ia mencontohkan, lahan di wilayahnya saat ini justru terbantu karena tengah memasuki masa panen. Curah hujan yang rendah membuat proses panen berjalan lebih lancar.
“Kami di Sukorejo kebetulan sedang panen. Dengan hujan yang jarang, pekerjaan jadi lebih maksimal karena tidak terganggu air,” tutur Ratna.
Meski begitu, Ratna berharap kondisi cuaca yang tidak menentu ini tidak memicu gejolak harga hasil pertanian.
“Harapannya, cuaca yang begini tidak berpengaruh ke harga. Beberapa waktu lalu sempat turun, sekarang mulai normal. Mudah-mudahan tetap stabil,” katanya.
Hingga kini, para petani masih menunggu kepastian pola hujan ke depan. Mereka berharap pemerintah dan pihak terkait memberikan panduan serta dukungan agar produksi pertanian tetap terjaga di tengah perubahan iklim.



