
Nama Steffany Kinky kembali menjadi kebanggaan Bumi Reog. Atlet jujitsu asal Ponorogo itu sukses mempersembahkan medali perunggu untuk Indonesia pada ajang SEA Games 2025 di Thailand.
Prestasi tersebut menambah daftar panjang kontribusi Ponorogo dalam perkembangan jujitsu nasional. Sejak lama, daerah ini dikenal sebagai salah satu lumbung atlet jujitsu berprestasi.
Steffany mengaku sudah menekuni olahraga bela diri asal Jepang itu sejak 2015. Berbagai kejuaraan tingkat provinsi, nasional, hingga internasional telah ia ikuti. Di SEA Games kali ini, sebenarnya ia menargetkan hasil lebih tinggi.
“Target saya sebenarnya emas. Tapi karena persiapan di pelatnas kurang maksimal, akhirnya saya hanya bisa menyumbang perunggu,”,” ujar Steffany.
Meski demikian, atlet berusia 23 tahun itu tetap bersyukur. Terlebih, Indonesia hanya mengirimkan satu wakil di cabang jujitsu.
“Alhamdulillah masih bisa membawa pulang medali. Apalagi saya satu-satunya atlet jujitsu yang dikirim. Ini jadi pengalaman berharga untuk ke depan,” tutur Steffany.
Sementara itu, Ketua Pengurus Besar Jujitsu Indonesia (PBJI) Ponorogo, Muryanto, menilai capaian Steffany menjadi bukti bahwa pembinaan jujitsu di daerahnya berjalan konsisten.
“Pembinaan jujitsu di Ponorogo sudah berlangsung lama. Banyak atlet dan pelatih lahir dari sini, lalu menyebarkan jujitsu ke daerah lain,” jelasnya.
Namun, ia mengakui masih ada tantangan besar yang harus dihadapi, terutama soal fasilitas.
“Keterbatasan sarana latihan masih jadi kendala. Atlet jujitsu Ponorogo sering harus berbagi dan meminjam tempat dengan cabor lain,” ungkap Muryanto.
Sebagai langkah maju, PBJI Ponorogo kini tengah membangun padepokan atau dojo pusat secara bertahap, sembari terus meningkatkan kualitas atlet dan memperkuat komunikasi dengan Pemkab Ponorogo.
“Kami berharap ke depan para atlet punya tempat latihan yang layak. Dengan fasilitas lebih baik, prestasi juga akan ikut meningkat,” tegasnya.
Prestasi Steffany di SEA Games 2025 menjadi motivasi baru bagi atlet muda Ponorogo. Selain mengharumkan nama daerah, ia membuktikan bahwa dengan tekad dan kerja keras, mimpi tampil di level internasional bukan hal mustahil.



