
Pemerintah Desa Nambangrejo, Kecamatan Sukorejo, kembali menggelar Festival Tektur sebagai ajang melestarikan budaya sekaligus mengenalkan kesenian tradisional kepada generasi muda.
Festival yang sudah memasuki tahun ketiga ini berlangsung meriah selama tiga hari, dengan melibatkan sedikitnya 18 RT yang ada di desa tersebut.
Ratusan warga tumpah ruah mengikuti arak-arakan keliling desa. Dengan rute mengelilingi sudut-sudut Nambangrejo, para peserta tampil antusias membawa dan memainkan tektur, alat musik bambu tradisional yang menjadi ikon festival ini.
Kepala Desa Nambangrejo, Hamim Wahyudi, menegaskan bahwa keberadaan tektur menjadi syarat utama dalam festival.
“Karena ini namanya Festival Tektur, maka setiap kelompok wajib menampilkan alat musik berbahan bambu itu. Setidaknya ada 10 orang yang memainkan tektur, lalu bisa dikombinasikan dengan alat musik lain. Jadi, nuansa tradisionalnya tetap kuat,” jelas Hamim.
Menurut Hamim, Festival Tektur kini menjadi agenda tahunan yang rutin digelar.
“Tahun ini sudah yang ketiga kalinya kami adakan. Warga sangat antusias, dan saya berharap kegiatan ini bisa nguri-uri budaya Jawa sekaligus memperkenalkan tektur kepada anak-anak sekarang, terutama generasi Alpha yang mulai jauh dari kesenian tradisi,” ungkapnya.
Festival yang berlangsung selama tiga hari ini tidak hanya menyajikan pawai musik bambu, tetapi juga menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda di Nambangrejo. Pemerintah desa berharap, tektur tidak hanya dikenal sebagai alat musik desa, tetapi juga bisa menjadi identitas budaya yang terus hidup di tengah perkembangan zaman.



