
Tiga pekan pasca diresmikan oleh Menteri Sosial Syaifullah Yusuf pada 4 Agustus 2025 lalu, para siswa Sekolah Rakyat (SR) mulai dilanda rasa kangen rumah.
Kepala Sekolah Rakyat, Devit Tri Candrawati, mengungkapkan rasa rindu tersebut bukan hanya kepada orang tua, tetapi juga suasana rumah dan lingkungan tempat mereka tinggal sebelumnya.
“Yang paling banyak mengalami homesick justru siswa jenjang SMP. Berbeda dengan siswa SD yang bisa dikunjungi orang tua setiap hari, siswa SMP hanya boleh dikunjungi sekali dalam sepekan,” terang Devit.
Untuk mengurangi rasa rindu, pihak sekolah memberikan kelonggaran bagi siswa agar bisa menghubungi orang tua lewat telepon maupun video call. Hal itu dilakukan karena masa transisi ini memang tidak mudah bagi anak-anak.
Selain itu, sekolah juga menyiapkan beragam agenda harian, mulai dari kegiatan kelompok, interaksi antara guru, wali asrama, dan siswa, hingga aktivitas outdoor seperti lomba 17 Agustus.
Terkait izin pulang, Devit memastikan bahwa setiap siswa SR hanya diperbolehkan mudik pada hari besar keagamaan mendatang. Sementara pada hari libur nasional, wali murid diperbolehkan berkunjung lebih lama dibanding hari biasa.
“Kami ingin membiasakan anak-anak agar tetap betah, meski jauh dari rumah. Namun tetap ada ruang komunikasi agar mereka merasa dekat dengan orang tua,” pungkasnya.



