
Di sebuah rumah sederhana di Jalan Jaksa Agung Gang 1, Kelurahan Mangkujayan, Kecamatan Ponorogo Kota, ratusan piala tertata rapi memenuhi sudut ruang tamu. Deretan piala itu bukan sekadar pajangan, melainkan saksi perjalanan panjang penuh perjuangan dari seorang pemuda bernama Avan Ferdiansyah Hilmi, 19 tahun.
Putra dari pasangan Eko Yudianto (54), pedagang makanan keliling, dan Ummi Latifah (50), penjual minuman di SDN 1 Mangkujayan, ini baru saja mencatat sejarah dalam hidupnya: diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun 2025.
“Alhamdulillah, Avan diterima di ITB tahun ini. Sejak kecil dia memang tekun, sering ikut lomba sejak kelas 2 SD. Pialanya banyak, dari matematika sampai sains,” ujar Ummi, sang ibu, dengan mata berkaca-kaca.
Ummi mengaku, meski bangga, ia juga khawatir soal biaya kuliah. Keluarga mereka yang hidup sederhana belum mendapat kepastian persetujuan dari program beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP Kuliah).
“Pengajuannya sudah kami lakukan, tapi sampai sekarang belum turun juga. Untuk semester pertama ini kami dapat bantuan Rp 4 juta dari perusahaan, itu sangat membantu,” tambahnya dengan harap.
Meski hidup dalam keterbatasan, Avan tetap mengukir prestasi tanpa pernah ikut les privat.
“Saya sadar keadaan ekonomi keluarga, jadi saya tidak ikut bimbel. Tapi saya siapkan nilai sejak kelas 1 SMA. Karena tahu jalur SNBP lebih memungkinkan buat saya,” ungkap Avan, yang sejak awal memang memimpikan bisa kuliah di ITB.
Avan diterima di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, salah satu jurusan impiannya yang sudah ia incar sejak SMA. Selain aktif belajar, ia juga rutin mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN), bahkan pernah menginjakkan kaki langsung di ITB saat bertanding — momen yang menguatkan tekadnya untuk kuliah di sana.
“Sejak kecil ikut lomba bukan karena target menang, tapi untuk berani tampil. Ternyata dari situ, jadi terbiasa dan alhamdulillah berbuah prestasi,” ujarnya.
Avan berharap, beasiswa KIP Kuliah bisa segera disetujui, agar ia bisa fokus belajar tanpa memikirkan biaya. Ia ingin menjadi kebanggaan bagi orang tuanya, yang selama ini mendidik dan membesarkannya dengan kerja keras dan cinta tanpa batas.



