
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menghadiri langsung upacara penutupan perayaan Grebeg Suro 2025 di panggung utama Alon-Alon Ponorogo, Kamis malam, 26 Juni 2025. Acara ini sekaligus menjadi momen pengumuman pemenang Festival Reog Remaja ke-21 dan Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) ke-30.
Dalam sambutannya, Fadli Zon menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas komitmen Kabupaten Ponorogo dalam menjaga dan melestarikan budaya nasional, khususnya kesenian Reog.
“Saya mengapresiasi komitmen Ponorogo yang luar biasa dalam menjaga budaya nasional. Reog Ponorogo adalah wujud nyata kekayaan budaya Indonesia yang mencerminkan keragaman luar biasa, atau yang saya sebut sebagai megadiversity,” ujar Fadli disambut riuh tepuk tangan penonton yang memadati Alon-Alon.
Fadli Zon juga mengingatkan bahwa Reog Ponorogo kini telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Dunia oleh UNESCO pada 3 Desember 2024 lalu di Paraguay. Menurutnya, capaian ini merupakan hasil dari perjalanan panjang dan perjuangan kolektif banyak pihak.
“Ini adalah prestasi besar. Sebuah cerita dari perjalanan panjang yang dilakukan oleh para tokoh, seniman, paguyuban, dan budayawan. Reog kini bukan hanya milik Ponorogo, tapi milik dunia,” tegasnya.
Ia juga menyebut, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini terus mendorong kemajuan kebudayaan sebagai bagian penting dari pembangunan nasional.
“Pemerintah pusat berkomitmen mendorong kemajuan kebudayaan sesuai amanat pasal 32 ayat 1 UUD 1945. Kebudayaan Indonesia harus menjadi pondasi bagi pembangunan bangsa,” imbuh Fadli.
Sebagaimana diketahui, Grebeg Suro 2025 telah digelar sejak 4 Juni hingga 29 Juni 2025. Festival tahunan ini membawa semangat pelestarian budaya Reog yang kini telah mendapat pengakuan dunia.
Penutupan Grebeg Suro juga turut dihadiri tokoh-tokoh penting dari berbagai daerah, seperti Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Bupati Jombang Warsubi, Bupati Tulungagung Gatut Sunu, serta para kepala daerah lainnya dari Jawa Timur. Selain itu, hadir pula perwakilan dari Kementerian, DPR, DPD RI, serta Staf Khusus Menteri Kebudayaan seperti Basuki Teguh Yuwono dan Putri Woelan Sari.



