
Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) di Kabupaten Ponorogo sepakat mematikan aplikasi selama 24 jam, mulai Selasa (20/5), sebagai bentuk solidaritas terhadap aksi unjuk rasa yang digelar secara serentak di berbagai kota besar di Indonesia.
Aksi ini dilakukan sebagai protes terhadap kebijakan aplikator yang dinilai merugikan pengemudi. Selain itu, para pengemudi juga menyuarakan sejumlah tuntutan yang berkaitan dengan tarif dan sistem pembagian hasil.
Dwi, salah satu pengemudi ojol di Ponorogo, mengatakan bahwa sebagian rekan-rekannya memilih turun langsung dalam aksi demonstrasi di luar kota. Sementara dirinya mendukung aksi tersebut dengan tidak menerima order selama sehari penuh.
“Teman-teman ada yang ke kota untuk demo. Saya sendiri memilih off aplikasi hingga pukul 00.00 malam nanti sebagai bentuk dukungan,” ujar Dwi kepada wartawan.
Menurutnya, unjuk rasa ini melibatkan pengemudi roda dua dan roda empat dari berbagai wilayah. Para peserta aksi akan menolak pesanan dengan cara mematikan aplikasi, dan masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pemesanan selama aksi berlangsung.
Adapun tuntutan utama para pengemudi ojol meliputi:
- Pembatasan potongan aplikator maksimal 10 persen.
- Revisi skema tarif penumpang dengan menghapus fitur seperti aceng, slot, hemat, dan prioritas.
- Keterlibatan asosiasi pengemudi, regulator, aplikator, dan YLKI dalam penetapan tarif layanan makanan dan pengiriman barang.
Dwi menyebut potongan aplikasi yang saat ini mencapai 30 hingga 40 persen sangat membebani pengemudi dan tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh.
“Potongan yang besar sangat memberatkan kami. Kami berharap ada perubahan yang lebih adil dan berpihak pada pengemudi,” ungkapnya.
Aksi ini dijadwalkan berlangsung selama 24 jam dan menjadi bagian dari gerakan nasional para pengemudi ojol untuk mendesak perubahan kebijakan dari pihak aplikator.



