
Serangan ribuan burung emprit terhadap tanaman padi di Kelurahan Pinggirsari terjadi akibat petani tidak melakukan penanaman padi secara serentak. Hal itu disampaikan oleh Suwarni, Koordinator Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Ponorogo.
“Pola tanam yang tidak serentak membuat burung pipit selalu ada sepanjang tahun. Ketika mengetahui ada tanaman padi yang sudah keluar malai lebih dulu, maka akan menjadi santapan burung,” ujar Suwarni.
Menurutnya, kondisi ini semakin diperparah jika luas lahan yang ditanami tidak besar. “Jika luasannya tidak luas, serangan burung akan terpusat pada tanaman padi yang sudah jebul, sebab kawasan lainnya belum siap panen,” tambahnya.
Suwarni menyarankan agar petani memasang jaring penutup di lahan pertanian mereka atau secara telaten menghalau burung dengan bunyi-bunyian maupun menjaga sawah dari pagi hingga petang.
“Sejauh ini, baru Kecamatan Kota yang melaporkan adanya serangan burung emprit. Namun, untuk luasan lahan yang diserang, pihak kami masih melakukan pendataan,” katanya.
Ia berharap agar kejadian ini tidak terulang. “Saat musim tanam berikutnya, petani sebaiknya melakukan penanaman secara serentak. Selain itu, jenis varietas yang ditanam juga turut mempengaruhi risiko serangan burung,” pungkasnya.